Breaking
Artikel

KEMANA KETELADANAN ITU HARI INI? Menjemput kembali mahkota yang hilang

04:26 WIB 76 kali dibaca 4 menit baca
R

Ditulis oleh

Redaksi Midadul Ummah

KEMANA KETELADANAN ITU HARI INI?
Menjemput kembali mahkota yang hilang
KEMANA KETELADANAN ITU HARI INI? Menjemput kembali mahkota yang hilang

Untaian Nasehat Kesucian Wanita

وسئلت يوماً السيدة فاطمة رضي الله عنها : ما هو خير للمرأة ؟!

قالت : ( أن لا ترى رجلاً ولا يراها رجل ).

Suatu hari, Sayyidah Fatimah Radiyallahu Anha, ditanya: "Apa hal yang paling baik bagi seorang wanita?",

Beliau menjawab:

"Hendaknya dia tidak melihat dan tidak dilihat oleh lelaki manapun."

قال الحبيب محمد بن علوي العيدروس:

هذا هو ميزان سيدة نساء العالمين فأين نساءنا اليوم من هذا الميزان النبوي ؟!! ومن جعلناهم قدوتنا ؟.

Al-Habib Muhammad bin Alawi al-Aydarus berkata:

"Inilah tolok ukur dari pemimpin wanita seluruh alam. Lantas, di manakah posisi kaum wanita kita hari ini jika dibandingkan dengan standar yang diajarkan nabi ini?

Dan siapakah yang sebenarnya kita jadikan teladan?"

Potret Keanggunan yang Silam

مما يحكى عن نساء المتقدمين في حضرموت أن المرأة لا تخرج من البيت إلا مرتين فقط ، المرة الأولى : خروجها من بيت أبيها إلى بيت زوجها ، والمرة الثانية : خروجها من بيت زوجها إلى المقبرة .

Dahulu, sejarah mencatat keanggunan wanita di tanah Hadramaut. Mereka adalah bunga-bunga yang mekar dalam rimbunnya rasa malu. Dikisahkan, seorang wanita hanya akan menapakkan kaki di luar pintu rumahnya dua kali saja sepanjang hayatnya:

1. Langkah Pertama: Saat dia melangkah keluar dari naungan sang ayah menuju pelukan rumah suaminya, membawa cahaya pernikahan.

2. Langkah Terakhir: Saat dia diusung keluar dari rumah suaminya menuju persemayaman abadi di liang lahat, kembali kepada Sang Pencipta.

ومما يذكر - أيضاً - قريباً - قبل ٢٠ سنة تقريباً أن المرأة لا تمشي في الشارع منفردة لا تمشي إلا مع محرم ولا تخرج إلى الأسواق .. أين هذا الكلام اليوم في زماننا هذا ؟!!

Disebutkan pula bahwa belum lama ini sekitar 20 tahun yang lalu pemandangan indah itu masih ada. Tak ada wanita yang berkelana sendirian di jalanan sepi maupun ramai. dia akan keluar jika didampingi mahramnya dan tidak pergi ke pasar-pasar yang penuh sesak.

Laru di manakah ajaran ajaran ini sekarang di zaman kita?

Renungan Hati di Era Modern

Kini, sebuah pertanyaan besar mengetuk pintu hati kita yang terdalam: Di manakah perginya kemuliaan itu di zaman ini? Ke mana hilangnya rasa malu yang dahulu menjadi mahkota paling berkilau bagi setiap kaum wanita?.

Puncak kemuliaan seorang wanita bukanlah berada pada riuh rendah pujian manusia di panggung dunia, melainkan pada keheningan yang terjaga rapi dalam ridha-Nya. Sayyidah Fatimah az-Zahra telah mewariskan sebuah standar langit yang takkan lekang oleh waktu:

Yang terbaik bagi wanita adalah tidak melihat dan tidak dilihat.

Dahulu, rasa malu adalah pakaian kemuliaan yang tak pernah tanggal dari tubuh, bahkan sebelum kain kafan putih membungkus badan. Namun, lihatlah realita kita hari ini kita sedang hidup di zaman di mana wanita merasa ketinggalan zaman jika wajahnya tidak tampil di depan kamera, dan merasa asing jika dirinya tidak dikenal oleh dunia.

Tanpa sadar, kita telah menukar tatapan bangga penuh berkah dari Rasulullah dengan tatapan lapar penuh syahwat dari ribuan mata asing di jagat maya.

Permata yang Terjaga

Ketahuilah, syariat ini hadir bukan untuk mengekang atau memenjara kebebasanmu. Namun, karena sebuah permata yang amat berharga dan mahal nilainya tidak akan pernah diletakkan di pinggir jalan untuk diinjak, dijamah, dan dilihat oleh sembarang orang.

Sungguh ironis, rasa malu yang dahulu menjadi benteng kokoh pelindung kehormatan, kini justru dianggap sebagai penjara yang membelenggu. Kita sering kali mengaku mencintai Sayyidah Fatimah, namun sayangnya, langkah kaki dan gaya hidup kita justru berjalan semakin menjauh dari jejak-jejak suci beliau.

Sayyidah Fatimah tidak dikenal dunia karena wajahnya yang terpampang, melainkan karena kesuciannya yang tak terjangkau.

Rasa malu bukan tentang menyembunyikan sebuah keburukan, melainkan tentang menjaga keindahan yang fitrah agar hanya Tuhan dan jiwa yang berhak yang bisa menikmatinya.

Sebuah Muhasabah Diri

Jika hari ini engkau merasa berat dan gelisah untuk menyembunyikan diri dari pandangan lelaki yang bukan mahrammu, maka tundukkanlah kepalamu dan tanyakanlah pada lubuk hatimu:

Siapa yang sebenarnya aku harapkan akan menyambutku di telaga Kautsar nanti? Apakah ribuan pengikut dan suka di media sosial, ataukah lambaian tangan suci Sayyidah Fatimah yang tengah menanti wanita-wanita yang gigih menjaga kehormatannya?

Dunia yang fana ini akan selalu memaksamu untuk tampil dan bersolek, tetapi Sayyidah Fatimah beserta Ummahatul Mu'minin yang lain memanggilmu dengan penuh kasih untuk selalu menjaga kesucianmu.

Jangan sampai, saat malaikat maut datang menjemput secara tiba-tiba, satu-satunya hal yang paling banyak diingat orang tentangmu hanyalah kecantikan wajahmu yang terpajang di dunia maya, bukan kemuliaan akhlakmu yang terpatri di rida-Nya. Sebab di dalam liang lahat yang gelap nanti, hanya kesucian dan amal salehmu yang akan menemanimu, bukan pandangan kagum dari dunia yang fana dan menipu.

Wallahu A'lam.

Referensi:

Kitab Nisaa' Syahiiraat Halaman 9 - 31

R

Kontributor

Redaksi Midadul Ummah

Bagikan berita ini: